Monday, December 2, 2019

surat untuk kamu

Kamu harus selalu ingat, ada yang selalu mendoakan kelancaran untuk sebuah keberhasilanmu.
Mungkin tidak satu, ada beberapa orang yang menyimpannya kepada sang pencipta.
Kadang tangis mengikuti kala bibir berucap, yang merek ingin hanya meihatmu tersenyum setelah badai menghantammu.

Bukan materi melainkan energi yang selalu bisa diberi.
bukan ucapan langsung kadang menyembunyikannya darimu adalah ketengangan.

Yang perlu kamu yakini sekarang hanya cinta dari kami yang begitu tulus hingga mampu mengorbankan waktu demi kamu yang kami sayangi.

Sunday, November 4, 2018

KAMU

Terimakasih sudah menjadi teman yang sangat baik. Banyak hal yang aku pelajari dari kamu, seperti definisi sabar versi kamu dalam menghadapi masalah. Satu hal yang aku amat kagum bahwa kamu adalah anak yang sangat baik untuk ibumu.
Senyum dari bibir tipis yang kamu lontarkan setiap saat menjadi perintah bagi diri sendiri untuk tetap merawatnya dan keluhan yang keluar dari mulutmu menjadi nasihat untuk masa kita yang akan datang.
Tetap beriringan, walau tak seiring. Tetap berdua, meskipun nanti ada yang mendua.
Kamu adalah alasan tetap kenapa aku ingin selalu hangat dalam rindu.

Thursday, August 9, 2018

TEMAN

Sebelum aku menulis lebih dalam tentang kamu, pertama aku ucapkan terimakasih untuk kamu yang disana, sudah membuat aku menjadi wanita selayaknya, sudah mau tahu bagaimana kecerobohanku dan sikap konyol ketika senja di warung makan kala itu.
Sebenarnya tak ada yang harus aku bahas tentang kamu tapi entah mengapa kamu menjadi sosok pemikiranku hawatir, selalu saja otakku berjalan ketika kamu bertindak tak seperti biasanya. Mungkin aku lancang, lancang sekali karena menulis tentangmu padahal kamu hanya menjadikan aku warna di kolom aplikasi chating, padahal kamu hanya menjadikan aku salah satunya bukan satu-satunya. Ah masalah itu aku kadang suka lupa diri.
Aku selalu ingin berkata "sudahlah, sampai kapan aku menjadi korban dari penatmu? Sampai kapan pesanku selalu kamu abaikan? Sampai kapan tungguku berbuah hasil?" Aku memang wanita tak tahu diri, sudah tahu tak bermasa depan masih saja ingin memperjuangkan, masih saja ingin mengeluh padamu, masih saja menunggu penatmu reda.
Percakapan kita hanya sebatas "baru bangun nih" seolah sudah tak tau harus membalas apa dan ujung-ujungnya kamu menghilang. Aku ingin mengakhiri perasaan yang tak mungkin terwujud ini, ingin sekali melontarkan cacian kepada diri sendiri karena menunggu yang tak pasti.
Sudah seharusnya dari awal tak sepicik ini tentang perasaan, hanya sebuah bumerang yang ahirnya menjadikan kehancuran yang nyata. Bergegaslah meminta maaf bahwa semua dari awal hanya mimpiku, bukan inginmu dan pinta tolonglah bahwa kamu tak bisa lebih dari sekedar "teman"

Saturday, November 18, 2017

APA INI YANG DIMAKSUD BERHASIL?



Lagu yang kamu nyanyikan waktu itu menemaniku mengakhiri cerita tentangmu sore ini. Sudah lama bukan? Sejak hari itu aku selalu mencari celah untuk bisa tenang melupakanmu. Sampai aku curahkan semuanya di blogku beberapa waktu lalu. Terdengar seperti mengadu pada dunia, tapi yakinlah itu salah satu caraku dalam usaha melupakanmu walaupun kamu tak pernah membacanya, untuk membuka blognya pun kamu berfikir ulang.

Entah, sekarang aku hanya ingin berhenti menceritakan kesedihanku tentangmu. Dari sekian banyak kejadian yang pernah kita alami, seharusnya aku menceritakan bagian yang bahagia. Bagian yang membuat aku tertawa dan terbawa disetiap suasana, bagian yang selalu aku senangi ketika bersamamu kala itu tanpa tangis tentunya.

Terimakasih, saat ini aku sudah bisa tertawa lepas tanpa menghawatirkan kamu lagi, sudah tidak mendambakan arti hadir kamu lagi. Yang aku yakini sekarang kamu adalah sebatas teman berbagi cerita bukan berbagi cinta, pernyataan yang menjijikan sepertinya bahwa luka yang dibuat kini sudah pulih. Aku selalu membenarkan perkataanmu “Kamu bisa, nanti bakal terbiasa ko. Bener”. Aku sudah seperti kamu sekarang, sudah terbiasa dengan keadaan. Mari kita berteman, mari kita berbagi cerita, keluhkan apapun yang kamu rasakan kepadaku jika kamu tak percaya pada teman-temanmu, mengadu saja padaku jika tak ada bahu yang menemanimu, aku siap.

Tuesday, September 19, 2017

Terkalahkan

Suatu pagi dihari itu...
Aku menyusuri jalanan setapak daerah sejuk untuk kembali melalukan rutinitas, dengan fikiran yang sangat tenang. Aku siap menjalani hari dengan tersenyum kembali.
Sudah tak ada ragu lagi.
Sudah tak ada lagi yang harus kufikirkan tentang dirimu.
Kecuali, rindu yang aku senandungkan didalam doa sebelum tidur.

Lama tak bersua
Lama tak melhat senyum meringismu
Lama tak membuat lelucon yang membuat tertawa keras
Lama tak menceritakan keluh hati dan fikiran padamu

Memang sudah seharusnya kita begini
Saling melupakan dalam keadaan purapura saling membenci
Hanya satu tujuanku, melupakanmu dengan benar.
Karena aku tersadar kau dan aku mengalah dengan keadaan.
Jika Tuhan berkehendak kita akan bersama, lagi.

Tuesday, August 22, 2017

Aku ingin seperti kamu

Waktu memang sudah lama berlalu, kabarpun tak pernah menghampiri ku terlebih dahulu. Sesekali percakapan ku buat untuk memulihkan kerinduan, tetapi keadaan menjadi semakin tak terduga. Kamu sudah menjadi dirimu lagi, iya sebelum bersamaku. Aku coba mengehentikannya dengan membuang semua  yang bernama kamu, tetapi hal itu membuat kita seolah olah sedang terjadi perang dingin. Lalu kita bicarakan lagi, lagi, dan lagi tapi tidak sama sekali menyelesaikan tentang perasaan ini, masih aja seperti ini mengharapkanmu.
Apakah aku boleh bertanya?
Apa kamu sudah tidak pernah menungguku lagi di sela-sela kesibukkanmu?
Apa aku sudah tak pernah terlintas di fikiran ketika lelahmu tiba?
Apa kamu tidak rindu?
Bisakah kamu jelaskan?

Rasanya saat ini aku ingin sepertimu, iya. Tidak membawa masalah ini menjadi berlarut-larut dan kamu sangat menikmatinya. Aku iri padamu.
Benar katamu "jangan terlalu membanggakan orang yang sekarang jadi milikmu, karena pada suatu hari nanti kamu bakal di lupain juga sama dia" dan aku merasakannya. Maaf jika aku berlebihan dan tidak memikirkan perasaanmu, ini pendapatku tentang kamu saat ini. Jika kamu tidak setuju, nomor dan id line ku masih yang lama. Kita sudahi perang dingin ini,apa kau tak lelah? mari kita gencat senjata. apakah kau tau? aku ingin sekali menyudahi perasaan ini.

Suatu hari nanti akan ku katakan dengan lantang di hadapanmu "aku sudah sama sepertimu sekarang, aku sudah bisa acuh padamu, aku sudah tak ingin tahu kabarmu sekarang, aku sudah tak di hantui bayangan masalalu, aku bisa"

Wednesday, August 16, 2017

Belajar Ikhlas (Lagi)



Memang sesuatu yang bukan seharusnya milik kita akan dipisahkan bagaimanapun keadannya, Sang Maha Penyayang memiliki beribu rencana baik setelahnya. Setelah kejadian itu banyak sekali rasa yang harusnya tetap utuh, bahkan sekarang harus hancur lebur dan hanya menyisakan kenangan. Manusia hanya berencana dan Yang Maha Kuasa menentukannya. Tidak ada yang salah dalam kisah ini, hanya tentang dua makhlukNya saling mendewasakan satu sama lain. Waktu itu punya awal yang sangat manis, yang membuat hati terlalu bersemangat untuk menjalani hari-hari. Perkenalan singkatpun terjadi walaupun memang ada pertemuan di setiap harinya tanpa mengenal. Hari itu dimana memang semuanya begitu indah tanpa cacat, dia menyempurnakan semuanya. Kita menjalani hari layaknya dua manusia yang jatuh cinta pada umumnya, kata-kata yang manis dan moment yang akan teringat sampai kapan pun. Orang-orang di sekelilingpun sangat mendukung kita berdua. Intinya semua sangat indah tanpa jeda.
Hari itu, dimana semua tiba-tiba tidak mendukung keberadaan satu sama lain, saling acuh tak acuh, saling mengelak, tidak ingin bericara apapun. Resah, pasti dialami setiap wanita manapun ketika orang yang dia percayai tiba-tiba berubah. Disitu memang ada kesalahan di salah satu pihak yang membuat rugi dipihak lainny. Hari demi hari di lewati,dan sebuah kabar menghiasi notif. Ya kabar buruk tapatnya, bercerita bahwa sudah tak ada yang lagi harus di pertahankan dan di perjuangkan untuk ini. Orang-orang sekeliling  sudah tidak bisa mendukung sebuah pertahanan yang di buat. Mungkin alasannya yang susah untuk di percaya dan lambat laun harus percaya akan alasannya itu.  Berulang-ulang pertanyaan yang sama “ini tuh ga bisa di perbaiki lagi? Ini tuh udah gabisa di perjuangin lagi?”. Percaya ga percaya semuanya emang gabisa buat di pertahani lagi. Dan udah dicoba pun still can’t to trying gitu. Udah ga bisa dia apa-apain lagi, percuma kalau semua orang udah gaada yang dukung.
Mau ga mau harus bener-bener ngelepas, walau sebenernya masih pengen banget merjuangin. "Please banget, masih sm2 masih harus belajar,masih jauh buat ke arah nikah, belum wisuda, belum nyari duit, masih bisa nyari yang better, ya kalau jodoh itu sebuah takdir yang gabisa dipisahin sama kita. Tapi ko malah gini........... kecewa banget sama keputusannya” that’s in mind. Egois sih iya emang mikir ke situ, padahal pihak yang di sana sama-sama terluka. Dan yang disini cuma mikirin keegoisannya yang kacau banget sama keputusannya. Tidak menghakimi salah pada yang memberi keputusan, tapi ini juga sebuah pelajaran agar semuanya lebih baik di masa depan, perjuangan ga ada yang sia-sia semuanya adalah pelajaran untuk satu sama lain.

Selalu kuat ketika siapapun ngomong gini “Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia akan ganti dengan yang lebih baik” manusia bisa banget bikin kecewanya, bukan karena manusia ga mampu memuaskan/membahagiakan tapi keahlian manusia terbatas. Selalu ada jalan keluarnya, di kasih cobaan karena Dia sayang sama kita, keep try to ikhlas. Allah knows what is best for me.
terimakasih sudah sempat terlibat perasaan, dengan seperti itu bahwa aku harus tetap berjuang dan bertahan, untuk orang  yang kelak mempunyai semangat juang seperti aku. mungkin kamu lagi? entahlah tak banyak berharap untuk itu. semoga kamu selalu di beri kebahagiaan.





-aku, u'r human diary 

surat untuk kamu

Kamu harus selalu ingat, ada yang selalu mendoakan kelancaran untuk sebuah keberhasilanmu. Mungkin tidak satu, ada beberapa orang yang me...