Thursday, August 9, 2018

TEMAN

Sebelum aku menulis lebih dalam tentang kamu, pertama aku ucapkan terimakasih untuk kamu yang disana, sudah membuat aku menjadi wanita selayaknya, sudah mau tahu bagaimana kecerobohanku dan sikap konyol ketika senja di warung makan kala itu.
Sebenarnya tak ada yang harus aku bahas tentang kamu tapi entah mengapa kamu menjadi sosok pemikiranku hawatir, selalu saja otakku berjalan ketika kamu bertindak tak seperti biasanya. Mungkin aku lancang, lancang sekali karena menulis tentangmu padahal kamu hanya menjadikan aku warna di kolom aplikasi chating, padahal kamu hanya menjadikan aku salah satunya bukan satu-satunya. Ah masalah itu aku kadang suka lupa diri.
Aku selalu ingin berkata "sudahlah, sampai kapan aku menjadi korban dari penatmu? Sampai kapan pesanku selalu kamu abaikan? Sampai kapan tungguku berbuah hasil?" Aku memang wanita tak tahu diri, sudah tahu tak bermasa depan masih saja ingin memperjuangkan, masih saja ingin mengeluh padamu, masih saja menunggu penatmu reda.
Percakapan kita hanya sebatas "baru bangun nih" seolah sudah tak tau harus membalas apa dan ujung-ujungnya kamu menghilang. Aku ingin mengakhiri perasaan yang tak mungkin terwujud ini, ingin sekali melontarkan cacian kepada diri sendiri karena menunggu yang tak pasti.
Sudah seharusnya dari awal tak sepicik ini tentang perasaan, hanya sebuah bumerang yang ahirnya menjadikan kehancuran yang nyata. Bergegaslah meminta maaf bahwa semua dari awal hanya mimpiku, bukan inginmu dan pinta tolonglah bahwa kamu tak bisa lebih dari sekedar "teman"

No comments:

Post a Comment

surat untuk kamu

Kamu harus selalu ingat, ada yang selalu mendoakan kelancaran untuk sebuah keberhasilanmu. Mungkin tidak satu, ada beberapa orang yang me...